Advertisements
Advertisements

Hubungan Mobilitas Manusia dan Parameter Meteorologi Terhadap Kasus Terkonfirmasi COVID-19 di DKI Jakarta

Kami telah melewati 1,5 tahun untuk mengatasi pandemi COVID-19. Selama tahun 2020, DKI Jakarta menjadi episentrum COVID-19 di Indonesia sebelum akhirnya terkendali pada September 2021. Berdasarkan dashboard klaster penularan COVID-19 seperti terlihat pada Gambar 1. terlihat bahwa klaster perkantoran mendominasi penyebaran COVID-19 di DKI Jakarta. Selain cluster perkantoran, area perumahan dan taman juga tampaknya mendominasi penyebaran COVID-19.

Rekomendasi Swab Test Jakarta

Khusus untuk klaster perkantoran, hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai akar permasalahannya, apakah penularan di kantor disebabkan oleh lemahnya protokol kesehatan yang diterapkan di kantor atau di kantor sudah menerapkan protokol kesehatan yang baik namun aktivitas pegawai di luar kantor masih kurang. akar penyebabnya. Mengenai masalah ini, beberapa ahli fokus pada penggunaan transportasi umum oleh pegawai kantoran, seperti menggunakan KRL, busway, MRT, LRT, dan transportasi umum lainnya [1–2].
Gambar 1. Klaster penularan Covid-19 di DKI Jakarta (sumber: corona.jakarta.go.id)

Selain faktor mobilitas manusia, isu variabilitas iklim dapat dianggap sebagai penyebab penyebaran kasus COVID-19. Hal ini karena cara penyebaran COVID-19 mirip dengan penyakit lain yang disebabkan oleh virus, seperti pandemi influenza, SARS, dan MERS. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suhu rendah dan kelembaban rendah berpengaruh pada peningkatan kasus pandemi influenza, SARS, dan MERS []. Khusus untuk pandemi influenza yang terjadi di daerah tropis seperti di Indonesia, beberapa penelitian menyebutkan bahwa puncak penularan influenza biasanya terjadi pada musim hujan.

Selain itu, penelitian yang berfokus pada pencarian korelasi parameter meteorologi dengan kasus COVID-19 sudah cukup banyak dilakukan. Sebagai contoh, Ref[] menyatakan bahwa curah hujan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kasus COVID-19 di Oslo, Denmark. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa rata-rata suhu dan kelembaban berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kasus COVID-19. Khusus di DKI Jakarta, hasil ref[] menunjukkan bahwa suhu rata-rata berkorelasi positif dengan peningkatan kasus COVID-19 di DKI Jakarta. Namun penelitian ref[] memiliki kendala waktu yang cukup singkat, tepatnya pada masa awal penyebaran COVID-19 di DKI Jakarta, sehingga penelitian ini akan memberikan hasil baru.

Artikel ini dimaksudkan untuk menampilkan informasi menarik tentang COVID-19 di DKI Jakarta dan untuk menunjukkan apakah ada hubungan kausal antara mobilitas manusia dengan faktor meteorologi pada kasus konfirmasi COVID-19 di DKI Jakarta. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari 3 sumber:

Kasus COVID-19 terkonfirmasi harian di DKI Jakarta (PH) → https://corona.jakarta.go.id/
Mobilitas manusia di stasiun transit (TS), taman (PR), dan perumahan (RS) → https://www.google.com/covid19/mobility/
Parameter meteorologi seperti suhu rata-rata (Tavg), kelembaban rata-rata (RH_avg), dan curah hujan (RR) → https://dataonline.bmkg.go.id/home

B. COVID-19 di DKI Jakarta
Gambar 2. Kasus harian terkonfirmasi COVID-19 di DKI Jakarta selama 1 Maret 2020 — 21 Agustus 2021.

Gambar 2 menunjukkan bahwa DKI Jakarta mengalami 3 periode peningkatan kasus terkonfirmasi COVID-19:

Juni – September 2020 (Setelah pemerintah menerapkan PSBB transisi)
November 2020 — Februari 2021 (Setelah pemerintah menerapkan PSBB transisi II), dan
Juni 2021 — Juli 2021 (Setelah pemerintah menerapkan PPKM Mikro).

Semua kenaikan terjadi setelah pemerintah menerapkan pelonggaran pembatasan publik di DKI Jakarta, dan terjadi bertepatan dengan hari besar keagamaan (idulfitri & natal) & tahun baru. Pelonggaran tersebut menyebabkan peningkatan mobilitas manusia seperti terlihat pada Gambar 3. sehingga dapat menjadi penyebab meningkatnya kasus COVID-19 di DKI Jakarta. Tren mobilitas manusia tertinggi terjadi pada saat pelaksanaan PPKM mikro. Awalnya tren peningkatan mobilitas manusia ini disertai dengan penurunan kasus terkonfirmasi COVID-19, namun pada Juni 2021 kasus terkonfirmasi mulai meningkat pesat hingga memecahkan rekor kasus terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 14.916 kasus pada 21 Juli 2021.
Gambar 3. Perubahan mobilitas manusia dari baseline di stasiun transit, taman, dan perumahan di DKI Jakarta selama 1 Maret 2020 — 21 Agustus 2021.

Gambar 3. juga menunjukkan bahwa setiap kali ada peningkatan kasus COVID-19, pemerintah segera menerapkan pembatasan mobilitas yang ditunjukkan dengan penurunan drastis mobilitas manusia secara tiba-tiba pada awal pemberlakuan PSBB, PPKM, dan PPKM lv. 4. Penerapan kebijakan tersebut tampaknya efektif mencegah penularan COVID-19 semakin parah.
Gambar 4. Tren curah hujan bulanan selama pandemi COVID-19 di DKI Jakarta

Gambar 4. menunjukkan bahwa tren curah hujan bulanan sejalan dengan kasus COVID-19 di DKI Jakarta, kecuali bulan Juni – Agustus 2021.

Swab PCR yang nyaman