Sebagai sebuah proses yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan atau aktivitas-aktivitas produksi pabrik makanan dan minuman, air limbah adalah hasil yang harus dikelola dengan baik. Dalam hal ini, sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup, adalah kewajiban dari para pemilik dan pelaku industri untuk mengelola air limbah buangannya agar tidak sampai berdampak buruk terhadap lingkungan.

Salah satu tindakan yang bisa diambil oleh pabrik-pabrik produksi biasanya adalah melalui pemasangan Instalasi Pengelolaan Air Limbah atau yang biasa disingkat IPAL. Salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia, Nestle, telah menerapkan dan menggunakan instalasi ini sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Instalasi IPAL yang digunakan oleh Nestle telah sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

Hal ini dilakukan oleh Nestle sebagai komitmen mereka dalam membantu melestarikan kehidupan lingkungan, yang salah satunya dengan cara mengelola air limbah hasil sisa produksi pabrik menjadi sumber pengairan yang dapat dimanfaatkan oleh para petani yang berada di sekitar pabrik. Untuk mengetahui secara lebih lanjut bagaimana Nestle mengelola limbah mereka untuk dimanfaatkan oleh para petani, berikut uraiannya.

Sarana WWTP atau IPAL dari Pabrik Nestle di Kejayan

Dalam penggunaan internasional, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dikenal juga sebagai sarana Waste Water Treatment Plant atau biasa disingkat WWTP. Di pabrik Nestle yang berada di Kejayan, melalui sarana WWTP ini, air limbah yang dihasilkan oleh pabrik diproses menjadi air bersih yang dihasilkan melalui prinsip-prinsip dasar berupa penyeimbangan, pengudaraan, dan penjernihan.

Pada setiap harinya, fasilitas ini mampu menghasilkan jumlah sekitar 1.300 meter kubik volume air bersih. Kualitas air bersih yang dihasilkan oleh fasilitas ini juga dikontrol dengan ketat dan dipantau secara berkala. Juga dilakukan pengambilan sampel untuk memeriksa kualitas air.

Pabrik Nestle di Kejayan juga bekerja  sama dengan masyarakat yang berada di sekitar pabrik juga para petani lokal untuk membangun saluran air dengan panjang yang saat ini mencapai 1,2 kilometer yang dialirkan melalui jalur persawahan. Fasilitas ini pada gilirannya juga telah mampu mengairi sebanyak 26 hektar sawah.

Proses pengelolaan air limbah sebagai sumber pengairan ini telah menjadi nilai positif untuk lingkungan. Pasalnya para petani saat ini sudah tidak lagi menggantungkan sumber pengairannya pada pasokan air sumur untuk memenuhi kebutuhan irigasi sawah-sawah mereka.

Demikianlah peran yang telah diambil oleh Nestle untuk mengelola limbah buangan mereka agar bermanfaat untuk para petani di sekitar. Sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup, adalah inisiatif Nestle untuk menghemat penggunaan air dengan sebaik mungkin dan melakukan penghematan energi. Dua hal ini adalah unsur paling utama dalam komitmen Nestle untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersifat berkesinambungan.